Senin, 28 Mei 2012

Mercusuar

source: http://www.teara.govt.nz/en/lighthouses/2/3/1

Mercusuar, ia berdiri kokoh di tepi pantai yang dipenuhi karang. Dulu, para nelayan membangunnya untuk membantu mereka menemukan daratan sepulang dari berlayar mencari ikan, membantu menghindari karang yang bisa merusak perahu mereka, terutama membantu untuk menunjukkan arah jika di tengah laut terjadi badai. Mercusuar itu memiliki jasa yang sangat besar bagi para nelayan. Oleh karenanya, penduduk di perkampungan nelayan itu pun begitu menghormatinya. Ia dirawat dengan sangat baik. Setiap hari ada petugas yang berjaga bersama Mercusuar itu. Listrik serta lampu Mercusuar diperhatikan dengan baik. Sehingga ia bisa bersinar begitu terang, menunjukkan jalan bagi nelayan untuk pulang. Bertahun-tahun lamanya Mercusuar dengan gembira mengemban tugas itu. Berdiri kokoh di atas karang, setiap malam mengerahkan segala kemampuannya. Sehingga ia bisa menghasilkan cahaya lamu yang begitu kuat. Begitu terang agar para nelayan dapat berlayar dengan baik di tengah laut.

Perlahan-lahan, seiring dengan kemajuan teknologi, para nelayan tidak begitu membutuhkannya lagi. Dengan sistem navigasi yang sudah mumpuni, nelayan itu tidak lagi sepenuhnya mengandalkan bantuan mercusuar. Para nelayan lebih mudah lagi dalam hal melaut, hasil tangkapan mereka pun jadi lebih banyak, sehingga dapat membeli kapal-kapal yang lebih besar dengan kemampuan navigasi yang lebih hebat lagi. Hingga pada suatu sore, penduduk kampung nelayan itu pun berbincang santai sebelum melaut.

“Apa yang harus kita lakukan terhadap Mercusuar ini? Sepertinya kita sudah tidak terlalu membutuhkannya lagi.” Kata salah seorang di antara mereka.

“Ya, benar. Sistem navigasi yang kita miliki sudah begitu canggih. Sehingga sepertinya mercusuar ini tidak lagi kita butuhkan tenaganya. Mercusuar ini pun membutuhkan tenaga listrik yang besar untuk cahaya lampunya. Lebih baik kita gunakan tenaga listrik tersebut untuk hal lain yang lebih perlu. Untuk keperluan listrik di pelelangan ikan misalnya. Bagaimana?” Nelayan lain menanggapi hal tersebut.

“Aku setuju. Lagipula, Ayahku sudah terlalu tua untuk berjaga. Tubuhnya sudah terlalu renta untuk meniti anak tangga Mercusuar yang tinggi menjulang itu. Alangkah baiknya jika Ayahku pensiun saja.” Yang berkata itu ternyata adalah anak si Penjaga Mercusuar.

Berundinglah akhirnya para penduduk kampung nelayang tersebut, mengenai apa yang harus mereka lakukan terhadap Mercusuar itu. Diam-diam Mercusuar sendiri mendengarkan perbincangan ini. Hatinya deg-degan, bersedih kiranya. Ia begitu mencintai tugasnya. Dia begitu senang dan berbangga karena dapat menjadi berguna bagi para penduduk kampung nelayan tersebut. Tapi kini, sepertinya ia sudah tidak dibutuhkan lagi. Murunglah ia jadinya. Cahayanya meredup, tidak terang seperti sedia kala. Mercusuar itu merenung murung, dengan cahaya redupnya, menunggu keputusan para penduduk kampung nelayan itu mengenai apa yang akan mereka lakukan terhadapnya.

Akhirnya para penduduk kampung nelayan sampailah pada sebuah keputusan: Mercusuar akan di-non-aktif-kan. Tadinya mereka berpikir untuk menghancurkan saja Mercusuar itu, tapi kiranya terlalu merepotkan. Terlebih bahwa Mercusuar itu sudah berjasa begitu besar terhadap mereka. Oleh karenanya, Mercusuar itu akan tetap berdiri, hanya saja lampunya akan diganti dengan watt yang lebih kecil, supaya hemat listrik. Para penduduk kampung nelayan sudah sadar akan ancaman Global Warming. Begitulah kiranya, Mercusuar itu tetap berdiri kokoh, namun kini tidak ada lagi pancaran sinar terang pada dirinya. Tidak ada lagi petugas yang setiap malam berjaga bersamanya. Hanya ada anak-anak kecil yang setiap hari datang, menjadikan Mercusuar itu sebagai taman bermain mereka. Hal ini setidaknya dapat memberikan sedikit hiburan yang membuat Mercusuar itu agak lupa dengan kesedihannya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bawa sebenarnya Mercusuar itu masih amat terpukul. Dengan kenyataan bahwa kini ia tidak begitu diperlukan lagi. Lambat laun Mercusuar itu pun semakin tak terawat. Tubuhnya dipenuhi lumut dan tumbuhan liar. Selain itu, Mercusuar itu pun kini telah banyak dipenuhi coretan. “Q-Noy luph Frederica” “Batax was here!!” coretan semacam itulah yang memenuhi dinding Mercusuar tersebut. Bahkan kini Mercusuar itu menjadi tempat memadu kasih para muda-mudi yang mencari tempat sepi untuk bercumbu. Banyak sampah tissue basah dan kondom bekas yang berserakan di kolong tangga Mercusuar. Hal tersebut membuat Mercusuar itu menjadi semakin depresi, dan menjadi lebih buruk lagi.

***

Malam itu hujan turun sangat deras disertai angin kencang dan guntur yang bergemuruh. Entah mengapa, malam itu langit seperti sedang menunjukkan kehebatannya. Beberapa atap rumah nelayan yang hanya terbuat dari seng terbang disapu angin. Keadaan sungguh mengerikan, mencekam, dan mendebarkan! Bikin deg-degan! Oh sungguh serem pokoknya! Sementara di tengah laut, badai mengamuk tidak kalah hebatnya. Bagaikan sedang murka kepada Sammy Simorangkir, badai mengguncang laut begitu hebatnya. Menciptakan ombak tinggi yang membuat siapapun pasti bergidik melihatnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, para nelayan melaut pada malam hari. Benar sekali, nelayan itu kini sedang diombang-ambing oleh badai. Untungnya, perahu nelayan itu cukup besar untuk bertahan agar tidak terbalik dan karam. Akan tetapi, siapa yang sanggup melawan alam? Hanya Vetty Vera yang adalah kakak kandungnya yang mungkin sanggup. Tidak akan ada manusia yang sanggup menghadapi alam, kecuali si Lela anak Kepala Desa, yang membuat aku tergila-gila.

Kembali ke kampung nelayan, para penduduk yang tidak melaut kini telah berkumpul di tepi pantai. Mereka tidak menghiraukan dahsyatnya hujan bila dibandingkan dengan senyumanmu! Penduduk kampung yan tidak melaut itu adalah Istri dan juga keluarga dari para nelayan yang sedang diamuk badai di tengah laut. Banyak Ibu dan anak anak yang meraung, menangis, karena mengkhawatirkan nasib suami dan Ayah mereka. Kekhawatiran itu semakin menjadi tatkala mereka melihat awan badai hitam pekat disertai kilat dan petir yang menyambar jauh di tengah lautan. Kilat yang dapat membuat langit menjadi begitu terang seketika, menggambarkan betapa mengerikan petir yang datang setelahnya. Memang benar kekhawatiran penduduk itu, perahu nelayan memang sedang menjadi bulan-bulanan sang badai. Nelayan itu tidak berani melajukan kapal karena alat navigasi mereka telah rusak akibat guncangan yang disebabkan oleh badai. Jadi mereka hanya berusaha bertahan dan kembali pulang saat badai sudah reda. Sementara di tepi pantai telah menunggu keluarga mereka yang sudah sangat khawatir. Hujan di pantai tidak lagi deras, hanya gerimis. Tapi itu menandakan bahwa badai telah menuju tengah lautan, sehingga apa yang terjadi di sana akan menjadi lebih hebat lagi.

“Sepertinya mereka kesulitan menemukan pantai di tengah badai itu!” Teriak salah seorang istri nelayan.

“Sepertinya begitu. Lihat itu! Badai di tengah laut itu begitu besar. Kita harus segera membantu mereka agar bisa kembali pulang. Tapi bagaimana caranya?” Yang lain menanggapi.

“Mercusuar!! Kita gunakan mercusuar untuk menunjukan mereka arah pantai” Teriak seorang bocah memutus kebuntuan.

Larilah berbondong-bondong penduduk kampung itu menuju Mercusuar. Seorang langsung menerobos naik dan memutar lampu Mercusuar. Akan tetapi, penduduk itu lupa bahwa kini cahaya Mercusuar itu tidak lagi seterang dahulu. Bahkan semakin redup tatkala sudah tidak ada lagi yang merawatnya, bahkan justru banyak tangan yang merusaknya. Mercusuar yang mengerti betul akan keadaan genting ini pun mengerahkan segenap kemampuannya. Ia berusaha keras memancarkan cahayanya. Akan tetapi usahanya sia-sia. Depresi berat yang dialaminya membuat kemampuan cahaya Mercusuar itu menurun drastis. Sementara keadaan semakin genting, usaha Mercusuar pun tidak cukup mampu membantu.

“Bagaimana ini?! Mercusuar ini tidak mampu menolong kita. Cahayanya sudah terlalu lemah.” Keluh orang yang tadi masuk ke Mercusuar.

“Kita harus segera menolong mereka dan mencari cara agar mereka dapat kembali. Jika tidak begitu, mereka akan habis luluh lantak oleh badai!” seorang Ibu berkata sambil terisak.

“Kita bakar saja Mercusuar ini! Terdapat banyak kayu yang menopang Mercusuar ini dari dalam. Jika kita menambahkan sedikit kayu lagi, menyiramnya dengan minyak, kita bisa membuat api yang sangat besar, dan cahaya api itu bisa membantu mereka yang melaut menuju daratan!” seorang dari mereka berteriak memberikan ide sambil langsung bergegas menyiapkan semuanya. Diikuti oleh penduduk lain yang juga setuju dan langsung melaksanakan ide tersebut.

Mercusuar sangat kaget mendengar ide ini. Ide gila! Mereka akan mengorbankan Mercusuar setelah apa yang dahulu ia berikan terhadap nelayan dan kampung ini. Akan tetapi, di sisi lain Mercusuar itu sadar bahwa memang sepertinya ide itulah yang terbaik dalam keadaan genting ini. Ia sendiri sudah tidak lagi mampu mencipta cahaya terang bagi nelayan untuk menunjukkan daratan. Mercusuar sadar, jika ia tidak merelakan dirinya, akan ada banyak penduduk kampung yang kehilangan orang-orang terkasihnya. Terlebih, orang-orang itu adalah mereka yang senantiasa menjadi tulang punggung keluarga. Tentu akan amat menyengsarakan jika para nelayan yang diamuk badai itu tidak dapat kembali pulang. Mercusuar menguatkan hatinya dalam perang batin dalam dirinya. Lebih baik ia hancur mengorbankan diri demi para nelayan, daripada tetap bertahan hanya untuk menjadi tempat muda-mudi bercumbu. Sembari menunggu dan menyaksikan penduduk itu menyiapkan kayu dan menyiram minyak, sekali lagi ia meyakinkan diri, bahwa inilah yang terbaik. Setidaknya, ia bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi para penduduk kampung nelayan ini, sebelum akhirnya ia hancur.

Setelah semua selesai dengan begitu cepat, sesegera mungkin para penduduk itu melemparkan obor dan membakar Mercusuar. Api besar segera menyelimuti Mercusuar. Tidak tinggal diam, Mercusuar pun tetap mengerahkan tenaganya untuk menghasilkan cahaya. Setidaknya ia tidak ingin hancur tanpa upaya. Kayu penopang tubuh Mercusuar menghasilhan api yang sangat besar. Tingginya Mercusuar juga membantu kobaran api itu menjadi lebih hebat lagi. Langit menjadi begitu terang dengan adanya api yang sedemikian besar. Meskipun gerimis masih turun mengiringi kehancuran Mercusuar yang khidmat itu. Tidak sia-sia, cahaya dari kobaran api yang sangat besar itu terlihat jelas oleh nelayan di tengah laut. Membantu mereka menemukan arah daratan. Dengan sisa kekuatannya, perahu dikerahkan untuk menerjang badai menuju pantai. Perjuangan akhirnya berhasil. Nelayan yang dihantam badai itu dapat kembali ke daratan. Suasana haru menyelimuti pantai. Para nelayan menghampiri keluarga mereka yang berlarian, langsung memeluk dan menciuminya. Terbayar sudah kekhawatiran mereka, orang-orang terkasih itu berhasil kembali dengan selamat. Isak tangis dan airmata menambah asin air laut di pantai pagi itu. Mereka bertukar cerita mengenai apa yang terjadi di tengah laut, dan apa yang terjadi di pantai. Setelah lama mereka melepas emosi di pantai itu, satu persatu dari mereka kembali ke rumah. Bersyukur atas keselamatan yang masih menemani mereka. Mengiringi kepulangan para penduduk kampung nelayan itu, api yang membakar Mercusuar pun mulai mengecil. Mercusuar itu hancur dilalap api, menjadi abu yang tersapu gerimis, mengalir bercampur air laut.

Minggu, 15 April 2012

Kembali Menari

alhamdulillaahh... akhirnya saya bisa kembali lagi mengunjungi taman bermain kesayangan saya ini. setelah kemarin sempat disibukkan dengan berbagai keperluan merajut masa depan. oleh karenanya, untuk merayakan hal ini, saya mau kasih kuis buat siapapun yang mampir kemari. ini dia kuisnya! bismillahirrahmanirrahiim...

tingkat kesulitan: naudzubillahimindzalik!

carilah 5 perbedaan dalam gambar "Serupa Tapi Tak Sama" di atas. kalau ada lebih dari 5 perbedaan, itu di luar tanggung jawab saya. jawaban yang benar akan mendapatkan hadiah menarik. menarik truk dengan menggunakan kantung biji pelir akan memecahkan rekor dan memecahkan telor. selamat menikmati, nanti saya kembali lagi. dadaaah!

Rabu, 14 Maret 2012

Pengamen Pengaman


Hujan deras menyambut kedatangan saya di Jakarta malam itu. Terpaksa saya harus berteduh dulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Saya cari warung di sekitar lampu merah Pasar Rebo untuk berteduh sekalian minum kopi dan merokok. Setelah membeli segelas kopi, saya jongkok di depan warung. Bangku yang ada sudah terisi penuh sama orang-orang yang juga terjebak hujan seperti saya. Sambil menunggu hujan reda, saya nikmati titik-titik air hujan yang berpendar terkena sinar lampu jalan dan kendaraan. Tak lama, berdiri seorang pemuda bergitar menghalangi pandangan di depan saya, mengaburkan kenikmatan saya akan titik hujan.

“Bang, jongkok di sini aja nih. Daripada di situ kecipratan air hujan. Sayang tuh gitarnya nanti.” Saya panggil orang itu, agar tidak menghalangi pandangan saya.
“oh iya. Tengkyu.” Pemuda bergitar itu akhirnya jongkok di samping saya.
“kopi, Bang.”
“rokoknya ada?” pemuda bergitar ini ternyata ngelunjak.
“ada nih, samsu.” Saya berikan rokok yang tadinya saya selipkan di daun telinga saya.
“begini baru asik nih. Kopi item sama samsu, ujan-ujan gini mantep bener dah. Tengkyu tengkyu!”
“hehehe iye, Bang. Sama-sama.”

Pemuda bergitar itu memperkenalkan dirinya dengan nama Kesed. Entahlah apa artinya. Badannya penuh tato, rambutnya gondrong, di telinganya berjejer peniti yang dikenakannya sebagai anting. Saya yakin, kalau ada razia preman, orang di sebelah saya ini pasti jadi yang pertama kali diciduk.

“lu baru turun bis yak? Barang lu banyak bener? Anak mana lu?” Kesed membuka obrolan.
“baru balik dari Bandung saya, Bang. Ini baju-baju yang dibawa dari kost ke rumah.”
“rumah lu di mana?”
“Condet” perasaan saya agak was-was. Takut di palak.
“oh…” tak bicara lagi. Kesed malah melamun.

Cukup lama pemuda bergitar itu melamun di samping saya. Karena hujan belum juga reda, saya beli lagi dua gelas kopi dan sebungkus rokok. Kembali lagi saya jongkok di samping pemuda bergitar itu.

“nih saya beli kopi sama rokok lagi. Ujannya lama nih kayanya, Bang.”
“wah! Jadi ngerepotin nih gua. Tengkyu banget nih.” Wajahnya menjadi lebih ramah dari sebelumnya.
“santai lah. Itung-itung saya jadi ada temen ngobrol. Pegel juga kalo jongkok bengong doang.”
“iya bener juga lu. Eh, lu kuliah di Bandung?”
“iya di Bandung. Di Unpad. Abang tau?”
“oohh.. ya tau lah. Dulu kan gua pengen kuliah di ITB, tapi nggak jadi. Biasa laah, nggak ada duit.”
“aduh! sayang banget, Bang.”
“iya. Padahal dulu gua pengen banget tuh kuliah teknik. Dulu kan gua sekolah STM. Tapi dari sekolah itu jadinya gua justru nggak bisa kuliah lagi. Tai lah!” Pandangannya jadi menerawang jauh, ia menggali memori yang tersimpan jauh di dalam pikirannya.
“kalo boleh tau, emang ceritanya gimana, Bang?”
“dulu gua sekolah STM, gua ambil mesin (mungkin maksudnya jurusan Mesin). Dari situ gua banyak belajar mesin produksi, dari mulai bubut sampe segala macem lah. Mulai itu gua jadi pengen serius lanjutin kuliah. Tapi yah lo tau sendiri kan namanya anak STM itu gimana, apalagi umur masih remaja gitu, lagi bandel-bandelnya.”
“Abang ikut tawuran pasti ya?”
“pastinya, gua berantem sana-sini. Tapi ya namanya orang sial, gua sempet ketangkep polisi. Pas itu kebetulan gua nggak cuma bawa barang (senjata), gua bawa baks (ganja) juga. anjing! Abis deh tu gua.”
“aduh! Bawa banyak emangnya?”
“lumayan banyak. Dulu satu sekolahan itu lobangnya (bandar) Cuma dua, gua salah satunya. Lu bayangin aja tuh. Kebetulan hari itu juga gua baru angkat barang banyak, ada lah sekitar sepuluh garis (paket). Wah, itu anjing banget apes gua hari itu.”
“anjiiiing, beneran sial banget berarti tuh. Trus akhirnya gimana tuh?”
“ya dari situ dah mulai berantakan semuanya. Bokap gua kan emang udah nggak ada ya, jadi emang Nyokap yang kerja buat ngasih makan gua sama adik gua. Tapi dari gua ketangkep itu, ternyata tabungan Nyokap dipake semua buat ngeluarin gua dari penjara itu. Supaya gua bisa lanjut sekolah juga kan. Makin susah deh tu keluarga gua. Adik gua ada empat orang, masih pada sekolah, masih pada kecil. Beres STM, gua tadinya mau kuliah. Tapi kalo gua kuliah, biaya hidup makin gila lagi. Apalagi gua pengen kuliah di luar kota. Nyokap nggak sanggup biayain. Apalagi kalo gua kuliah, nggak ada yang bantuin cari duit buat keluarga. Jadinya yaudah, gua kerja serabutan aja sekalian bantuin Nyokap. Ngamen, cari obyekan apa lah gitu, yang penting dapet duit.”

Saya masih tertegun mendengar ceritanya Kesed. Masih berusaha membayangkan kira-kira seperti apa kejadiannya, dan bagaimana rasanya berada di tengah kondisi seperti itu. Ngeri!

“jadi lo baru balik ngamen nih sekarang, Bang?”
“iyak. Tapi mau balik malah hujan gini. Ah, tai!”
“balik kemana emangnya?”
“Pulo Gadung.”
“buset! Jauh! Masih hujan, lanjutin ceritanya boleh, Bang!”
“oiya! Nah dari situ yaudah makanya gua nggak jadi kuliah. Tapi emang setelah gua pikir-pikir, kayanya otak gua juga nggak mampu sih belajar di sana. Hahahaha. Eh, gua minta rokok lu sebatang lagi ya!”
“oiya tuh ambil aja silakan. Itu kejadiannya berapa tahun lalu, Bang? Sampe sekarang masih susah?”
“wah, udah lama banget, ada sekitar sepuluh tahun lalu lah. Sekarang hidup gua udah mendingan sih. Gua udah ada dua kerjaan, di percetakan sama suka bantuin di pabrik.”
“lah? Ini kenapa masih ngamen? Buat tambahan ye? Apa buat tambahan modal kawin? Hahaha.”
“hahaha. Tai lu! Nggak lah, buat tambahan aja. Buat kalo misalnya sewaktu-waktu adik gua ada yang minta duit jajan tambahan. Kan kasian masih pada sekolah. Kawin mah ntar aja, nggak kepikiran sampe sekarang.”
“emang lo belum punya Pacar, Bang?”
“kok pertanyaan lu jadi genit begitu? Lu diem-diem naksir gua?”
“hahahaha. Anjing! Yaelah, ge-er amat lo, kan cuma tanya doang.”
“hahahaha. Ada sih cewe gua di deket rumah. Cuma belom minta kawin dia. Lagipula gua udah bilangin sama dia. Kalo mau cepet dilamar, mendingan cari yang lain. Gua mau ngurusin Nyokap sama adik-adik gua dulu. Biar ntar adik gua pada lulus sekolah, gua ngumpulin duit buat buka usaha sama Nyokap. Apa kek gitu. Cewe gua udah ngerti kok. Gua bilang juga sama dia, kalo mau sama gua, harus sabar. Kawin kan nggak gampang, kalo cuma mikirin selangkangan mah nggak usah pusing. Kalo mau ngentot kan modal ceban (sepuluh ribu) buat beli kondom juga jadi. Tapi kalo kawin, berkeluarga gitu, kan banyak pertimbangannya. Nanti kalo gua udah ada keluarga sendiri, Nyokap sama adik-adik gua pasti nggak bisa gua urusin total kaya sekarang nih. Makanya, gua mendingan telat kawin, daripada adik-adik gua telat bayar sekolah.”

Kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya membuat saya nggak bisa bilang apa-apa lagi. Saya jadi bengong sendiri. Kesed, nggak tau lah siapa nama aslinya, begitu peduli sama keluarganya. Saya bahkan sempat berpikir bahwa dia adalah preman yang mau berbuat jahat sama saya, mencopet, memperkosa, atau apa gitu. Ternyata di balik dandanan lusuhnya, ada cita-cita yang begitu mulia untuk keluarganya. Saya jadi malu sendiri. Malu karena sudah suudzon sama orang lain, juga malu karena saya sendiri bahkan tidak berpikir sejauh itu. Saya jadi introspeksi diri sambil jongkok di depan warung. Agak aneh kelihatannya memang, tapi yasudah tak apa. Sampai akhirnya saya tersadar. Titik air yang berpendar itu telah pergi, hujan sudah berhenti. Saya jadi ingat sama Kesed yang sedari tadi saya tinggal melamun sendiri.

“eh, Bang….” Saya tengok ke arah Kesed, ternyata dia sudah tidak ada.

Loh??? Ternyata saya tinggal sendiri. Saya bingung sendiri. Kesed sudah lebih dulu pergi rupanya. Di sebelah saya hanya ada beberapa puntung rokok yang berserakan, dua gelas plastik bekas kopi, sebuah gitar, dan sebingkai cermin yang tak saya sadari keberadaannya di situ. Yasudah, saya lanjutkan perjalanan saya pulang ke rumah.