![]() |
| source: http://www.teara.govt.nz/en/lighthouses/2/3/1 |
Mercusuar,
ia berdiri kokoh di tepi pantai yang dipenuhi karang. Dulu, para nelayan
membangunnya untuk membantu mereka menemukan daratan sepulang dari berlayar
mencari ikan, membantu menghindari karang yang bisa merusak perahu
mereka, terutama membantu untuk menunjukkan arah jika di tengah
laut terjadi badai. Mercusuar itu memiliki jasa yang sangat besar bagi para
nelayan. Oleh karenanya, penduduk di perkampungan nelayan itu pun begitu
menghormatinya. Ia dirawat dengan sangat baik. Setiap hari ada petugas yang
berjaga bersama Mercusuar itu. Listrik serta lampu Mercusuar diperhatikan
dengan baik. Sehingga ia bisa bersinar begitu terang, menunjukkan jalan bagi
nelayan untuk pulang. Bertahun-tahun lamanya Mercusuar dengan gembira mengemban
tugas itu. Berdiri kokoh di atas karang, setiap malam mengerahkan segala
kemampuannya. Sehingga ia bisa menghasilkan cahaya lamu yang begitu kuat. Begitu
terang agar para nelayan dapat berlayar dengan baik di tengah laut.
Perlahan-lahan,
seiring dengan kemajuan teknologi, para nelayan tidak begitu membutuhkannya
lagi. Dengan sistem navigasi yang sudah mumpuni, nelayan itu tidak lagi sepenuhnya
mengandalkan bantuan mercusuar. Para nelayan lebih mudah lagi dalam hal melaut,
hasil tangkapan mereka pun jadi lebih banyak, sehingga dapat membeli
kapal-kapal yang lebih besar dengan kemampuan navigasi yang lebih hebat lagi. Hingga
pada suatu sore, penduduk kampung nelayan itu pun berbincang santai sebelum
melaut.
“Apa
yang harus kita lakukan terhadap Mercusuar ini? Sepertinya kita sudah tidak
terlalu membutuhkannya lagi.” Kata salah seorang di antara mereka.
“Ya,
benar. Sistem navigasi yang kita miliki sudah begitu canggih. Sehingga sepertinya
mercusuar ini tidak lagi kita butuhkan tenaganya. Mercusuar ini pun membutuhkan
tenaga listrik yang besar untuk cahaya lampunya. Lebih baik kita gunakan tenaga
listrik tersebut untuk hal lain yang lebih perlu. Untuk keperluan listrik di
pelelangan ikan misalnya. Bagaimana?” Nelayan lain menanggapi hal tersebut.
“Aku
setuju. Lagipula, Ayahku sudah terlalu tua untuk berjaga. Tubuhnya sudah terlalu
renta untuk meniti anak tangga Mercusuar yang tinggi menjulang itu. Alangkah
baiknya jika Ayahku pensiun saja.” Yang berkata itu ternyata adalah anak si
Penjaga Mercusuar.
Berundinglah
akhirnya para penduduk kampung nelayang tersebut, mengenai apa yang harus
mereka lakukan terhadap Mercusuar itu. Diam-diam Mercusuar sendiri mendengarkan
perbincangan ini. Hatinya deg-degan, bersedih kiranya. Ia begitu mencintai
tugasnya. Dia begitu senang dan berbangga karena dapat menjadi berguna bagi
para penduduk kampung nelayan tersebut. Tapi kini, sepertinya ia sudah tidak
dibutuhkan lagi. Murunglah ia jadinya. Cahayanya meredup, tidak terang seperti
sedia kala. Mercusuar itu merenung murung, dengan cahaya redupnya, menunggu
keputusan para penduduk kampung nelayan itu mengenai apa yang akan mereka
lakukan terhadapnya.
Akhirnya
para penduduk kampung nelayan sampailah pada sebuah keputusan: Mercusuar akan
di-non-aktif-kan. Tadinya mereka berpikir untuk menghancurkan saja Mercusuar
itu, tapi kiranya terlalu merepotkan. Terlebih bahwa Mercusuar itu sudah
berjasa begitu besar terhadap mereka. Oleh karenanya, Mercusuar itu akan tetap
berdiri, hanya saja lampunya akan diganti dengan watt yang lebih kecil, supaya
hemat listrik. Para penduduk kampung nelayan sudah sadar akan ancaman Global
Warming. Begitulah kiranya, Mercusuar itu tetap berdiri kokoh, namun kini tidak
ada lagi pancaran sinar terang pada dirinya. Tidak ada lagi petugas yang setiap
malam berjaga bersamanya. Hanya ada anak-anak kecil yang setiap hari datang,
menjadikan Mercusuar itu sebagai taman bermain mereka. Hal ini setidaknya dapat
memberikan sedikit hiburan yang membuat Mercusuar itu agak lupa dengan
kesedihannya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bawa sebenarnya Mercusuar itu
masih amat terpukul. Dengan kenyataan bahwa kini ia tidak begitu diperlukan
lagi. Lambat laun Mercusuar itu pun semakin tak terawat. Tubuhnya dipenuhi
lumut dan tumbuhan liar. Selain itu, Mercusuar itu pun kini telah banyak
dipenuhi coretan. “Q-Noy luph Frederica” “Batax was here!!” coretan semacam
itulah yang memenuhi dinding Mercusuar tersebut. Bahkan kini Mercusuar itu
menjadi tempat memadu kasih para muda-mudi yang mencari tempat sepi untuk
bercumbu. Banyak sampah tissue basah dan kondom bekas yang berserakan di kolong
tangga Mercusuar. Hal tersebut membuat Mercusuar itu menjadi semakin depresi,
dan menjadi lebih buruk lagi.
***
Malam
itu hujan turun sangat deras disertai angin kencang dan guntur yang bergemuruh.
Entah mengapa, malam itu langit seperti sedang menunjukkan kehebatannya. Beberapa
atap rumah nelayan yang hanya terbuat dari seng terbang disapu angin. Keadaan sungguh
mengerikan, mencekam, dan mendebarkan! Bikin deg-degan! Oh sungguh serem
pokoknya! Sementara di tengah laut, badai mengamuk tidak kalah hebatnya. Bagaikan
sedang murka kepada Sammy Simorangkir, badai mengguncang laut begitu hebatnya. Menciptakan
ombak tinggi yang membuat siapapun pasti bergidik melihatnya. Sebagaimana yang
kita ketahui bersama, para nelayan melaut pada malam hari. Benar sekali,
nelayan itu kini sedang diombang-ambing oleh badai. Untungnya, perahu nelayan
itu cukup besar untuk bertahan agar tidak terbalik dan karam. Akan tetapi,
siapa yang sanggup melawan alam? Hanya Vetty Vera yang adalah kakak kandungnya
yang mungkin sanggup. Tidak akan ada manusia yang sanggup menghadapi alam,
kecuali si Lela anak Kepala Desa, yang membuat aku tergila-gila.
Kembali
ke kampung nelayan, para penduduk yang tidak melaut kini telah berkumpul di
tepi pantai. Mereka tidak menghiraukan dahsyatnya hujan bila dibandingkan
dengan senyumanmu! Penduduk kampung yan tidak melaut itu adalah Istri dan juga
keluarga dari para nelayan yang sedang diamuk badai di tengah laut. Banyak Ibu
dan anak anak yang meraung, menangis, karena mengkhawatirkan nasib suami dan
Ayah mereka. Kekhawatiran itu semakin menjadi tatkala mereka melihat awan badai
hitam pekat disertai kilat dan petir yang menyambar jauh di tengah lautan.
Kilat yang dapat membuat langit menjadi begitu terang seketika, menggambarkan
betapa mengerikan petir yang datang setelahnya. Memang benar kekhawatiran
penduduk itu, perahu nelayan memang sedang menjadi bulan-bulanan sang badai. Nelayan
itu tidak berani melajukan kapal karena alat navigasi mereka telah rusak akibat
guncangan yang disebabkan oleh badai. Jadi mereka hanya berusaha bertahan dan
kembali pulang saat badai sudah reda. Sementara di tepi pantai telah menunggu
keluarga mereka yang sudah sangat khawatir. Hujan di pantai tidak lagi deras,
hanya gerimis. Tapi itu menandakan bahwa badai telah menuju tengah lautan,
sehingga apa yang terjadi di sana akan menjadi lebih hebat lagi.
“Sepertinya
mereka kesulitan menemukan pantai di tengah badai itu!” Teriak salah seorang
istri nelayan.
“Sepertinya
begitu. Lihat itu! Badai di tengah laut itu begitu besar. Kita harus segera
membantu mereka agar bisa kembali pulang. Tapi bagaimana caranya?” Yang lain
menanggapi.
“Mercusuar!!
Kita gunakan mercusuar untuk menunjukan mereka arah pantai” Teriak seorang
bocah memutus kebuntuan.
Larilah
berbondong-bondong penduduk kampung itu menuju Mercusuar. Seorang langsung
menerobos naik dan memutar lampu Mercusuar. Akan tetapi, penduduk itu lupa
bahwa kini cahaya Mercusuar itu tidak lagi seterang dahulu. Bahkan semakin
redup tatkala sudah tidak ada lagi yang merawatnya, bahkan justru banyak tangan
yang merusaknya. Mercusuar yang mengerti betul akan keadaan genting ini pun
mengerahkan segenap kemampuannya. Ia berusaha keras memancarkan cahayanya. Akan
tetapi usahanya sia-sia. Depresi berat yang dialaminya membuat kemampuan cahaya
Mercusuar itu menurun drastis. Sementara keadaan semakin genting, usaha
Mercusuar pun tidak cukup mampu membantu.
“Bagaimana
ini?! Mercusuar ini tidak mampu menolong kita. Cahayanya sudah terlalu lemah.” Keluh
orang yang tadi masuk ke Mercusuar.
“Kita
harus segera menolong mereka dan mencari cara agar mereka dapat kembali. Jika tidak
begitu, mereka akan habis luluh lantak oleh badai!” seorang Ibu berkata sambil
terisak.
“Kita
bakar saja Mercusuar ini! Terdapat banyak kayu yang menopang Mercusuar ini dari
dalam. Jika kita menambahkan sedikit kayu lagi, menyiramnya dengan minyak, kita
bisa membuat api yang sangat besar, dan cahaya api itu bisa membantu mereka
yang melaut menuju daratan!” seorang dari mereka berteriak memberikan ide
sambil langsung bergegas menyiapkan semuanya. Diikuti oleh penduduk lain yang
juga setuju dan langsung melaksanakan ide tersebut.
Mercusuar
sangat kaget mendengar ide ini. Ide gila! Mereka akan mengorbankan Mercusuar
setelah apa yang dahulu ia berikan terhadap nelayan dan kampung ini. Akan tetapi,
di sisi lain Mercusuar itu sadar bahwa memang sepertinya ide itulah yang
terbaik dalam keadaan genting ini. Ia sendiri sudah tidak lagi mampu mencipta
cahaya terang bagi nelayan untuk menunjukkan daratan. Mercusuar sadar, jika ia
tidak merelakan dirinya, akan ada banyak penduduk kampung yang kehilangan
orang-orang terkasihnya. Terlebih, orang-orang itu adalah mereka yang
senantiasa menjadi tulang punggung keluarga. Tentu akan amat menyengsarakan
jika para nelayan yang diamuk badai itu tidak dapat kembali pulang. Mercusuar
menguatkan hatinya dalam perang batin dalam dirinya. Lebih baik ia hancur
mengorbankan diri demi para nelayan, daripada tetap bertahan hanya untuk
menjadi tempat muda-mudi bercumbu. Sembari menunggu dan menyaksikan penduduk
itu menyiapkan kayu dan menyiram minyak, sekali lagi ia meyakinkan diri, bahwa
inilah yang terbaik. Setidaknya, ia bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi
para penduduk kampung nelayan ini, sebelum akhirnya ia hancur.
Setelah
semua selesai dengan begitu cepat, sesegera mungkin para penduduk itu
melemparkan obor dan membakar Mercusuar. Api besar segera menyelimuti
Mercusuar. Tidak tinggal diam, Mercusuar pun tetap mengerahkan tenaganya untuk
menghasilkan cahaya. Setidaknya ia tidak ingin hancur tanpa upaya. Kayu
penopang tubuh Mercusuar menghasilhan api yang sangat besar. Tingginya Mercusuar
juga membantu kobaran api itu menjadi lebih hebat lagi. Langit menjadi begitu
terang dengan adanya api yang sedemikian besar. Meskipun gerimis masih turun
mengiringi kehancuran Mercusuar yang khidmat itu. Tidak sia-sia, cahaya dari
kobaran api yang sangat besar itu terlihat jelas oleh nelayan di tengah laut. Membantu
mereka menemukan arah daratan. Dengan sisa kekuatannya, perahu dikerahkan untuk
menerjang badai menuju pantai. Perjuangan akhirnya berhasil. Nelayan yang
dihantam badai itu dapat kembali ke daratan. Suasana haru menyelimuti pantai.
Para nelayan menghampiri keluarga mereka yang berlarian, langsung memeluk dan
menciuminya. Terbayar sudah kekhawatiran mereka, orang-orang terkasih itu
berhasil kembali dengan selamat. Isak tangis dan airmata menambah asin air laut
di pantai pagi itu. Mereka bertukar cerita mengenai apa yang terjadi di tengah
laut, dan apa yang terjadi di pantai. Setelah lama mereka melepas emosi di
pantai itu, satu persatu dari mereka kembali ke rumah. Bersyukur atas
keselamatan yang masih menemani mereka. Mengiringi kepulangan para penduduk
kampung nelayan itu, api yang membakar Mercusuar pun mulai mengecil. Mercusuar
itu hancur dilalap api, menjadi abu yang tersapu gerimis, mengalir bercampur
air laut.
